Syarat Benda yang Diwakafkan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sebelum suatu barang diwakafkan, syaratnya tidak ada yang menyangkal sedikitpun bahwa orang yang mewakafkan adalah pemilik benda yang akan diwakafkan. Wakaf dipandang tidak sah, kecuali terhadap barang yang dimiliki secara sempurna. Kemudian, apabila wakaf itu sudah dilaksanakan maka banyak perbedaan pendapat para ulama terhadap status kepemilikan benda yang diwakafkan.
sumber : pixabay.com

Imam Malik berpendapat bahwa kepemilikan benda yang akan diwakafkan tetap berada di tangan pemilik aslinya, akan tetapi ia tidak boleh menggunakan benda tersebut lagi. Adapun pendapat Imam Hanafi berpendapat bahwa barang yang diwakafkan tersebut sudah tidak ada lagi pemiliknya. Pendapat inilah yang paling kuat di antara beberapa pendapat di kalangan para pengikut Mazhab Imam Syafi’i, sedangkan Imam Hanbali mengatakan bahwa barang tersebut berpindah ke tangan pihak yang diberikan wakaf.

Adapun syarat benda yang akan diwakafkan adalah sebagai berikut :
  • Benda yang diwakafkan adalah milik penuh orang yang mewakafkan ( waqif ) benda tersebut, sehingga tidak sah mewakafkan sebidang tanah milik orang lain yang sedang dikontraknya atau mewakafkan barang curian.
  • Benda yang diwakafkan memiliki nilai guna atau kebermanfaatan, sehingga tidak sah hukumnya mewakafkan benda yang tidak berguna sama sekali atau bahkan mewakafkan benda yang mendatangkan mudharat seperti benda-benda memabukkan dan sejenisnya.
  • Manfaat dari benda yang diwakafkan tersebut bersifat tahan lama, sehingga tidak sah apabila mewakafkan benda yang cepat habis seperti makanan atau minuman yang cepat habis dalam waktu singkat.
  • Benda yang diwakafkan harus jelas wujud dan bentuknya, sehingga wakaf yang tidak secara jelas harta yang diwakafkan tidak sah pelaksanaan wakafnya.
Apabila benda yang diwakafkan sudah tidak memiliki nilai guna ( manfaat ) lagi, kecuali dengan cara dijual, Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa benda yang diwakafkan itu boleh dijual dan hasilnya dimanfaatkan kembali untuk kemaslahatan ( kepentingan ) umat.

Demikianlah artikel mengenai penggolongan hadis berdasarkan jumlah perawi ( periwayat hadis ) nya. Apabila ada kesalahan mohon dikoreksi, semoga bermanfaat.
Sumber :
  • Kamal, Rahmat. 2015. Pedoman Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas 1. Solo: Platinum.
Back To Top