Macam-Macam Ijtihad

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Apa itu Ijtihad ?

Secara istilah ijtihad artinya proses berpikir secara sungguh-sungguh dengan mencurahkan seluruh kemampuan yang dimiliki ntuk memahami kaidah-kaidah hukum yang bersifat umum dan fundamental yang terdapat dalam Al-Qur'an, kemudia dijadikan sebuah formulasi garis-garus hukumm yang dapat diterapkan pada suatu kasus terntentu yag memang belum ditemukan jawabannya, baik dalam Al-Qur'an maupun hadis.
sumber : commons.wikimedia.org

Jenis-Jenis Ijtihad 

1. Ijma'

Ijma', yaitu persetujuan tau kesesuaian pendapat para ahli mengenai suatu masalah pada suatu tempat di suatu waktu / masa. Persetujuan itu diperoleh degan suatu cara di tempat yang sama. Misalnya, di Indonesia telah terjadi kesepakatan (ijma') mengenai diperbolehkannya poligami dengan syarat-syarat tertentu selain dari kewajiban berlaku adilyang disebutkan dalam Q.S an-Nisa Ayat 3 yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang perkawinan.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ   أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا
 Artinya : " Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."Q.S an-Nisa ayat 3. 

2. Kias

Kias, yaitu menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam Al-Qur'an dan hadis karena adanya persamaan illat ( penyebab atau alasan ). Misalnya menyamakan hukum meminum khamar ( sejenis minuman yang memabukkan yang diolah dar buah-buahan ) yang terdapat dalam Q.S al-Maa'idah ayat 90 dengan segala jenis makanan atau minuman yang hukumnya tidak terdapat dalam Al-Qur'an atau hadis, tetapi dapat memabukkan, apapun namanya. Alasan dari disamakannya kedua hukum tadi adalah karena adanya persamaan illat, yaitu memabukkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 
 
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

3. Istidlaal

Istidlaal, yaitu menarik kesimpulan dari dua hal yang berlainan. Misalnya, menarik kesimpulan dari adat dan istiadat yang diwahyukan sebelum Islam. Adatyang telah lazim dalam masyarakat dan tidak bertentangan dengan hukum Islam ( misalnya gono-gini atau harta bersama ) dan hukum agama yang diwahyukan sebelum Islam, tetapi tidak dihapuskan oleh syariat Islam dan dapat ditarik garis-garis hukumnya untuk dijadikan hukum Islam.

4. Maslahah mursalah

Maslahah mursalah,  yaitu cara menentukan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya, baik di dalam Al-Qur'an maupun hadis berdasarkan pertimbangan kemaslahatan atau kepentingan masyarakat dalam rangka pemerataan pendapatan atau pengumpulan dana yan diperlukan untuk memelihara kepentingan umum yang sama sekali tidak disinggung dalam Al-Qur'a dan hadis.

5. Istihsan

Istihsan, yaitu cara menentukan hukum dengan jalan menyimpang dari ketentuan yang sudah ada demi keadilan dan kepentingan sosial. Misalnya, hukum Islam melindungi dan menjamin hak milik seseorang. Hak milik seseorang ini hanya dapat dicabut jika disetuhui oleh pemiliknya. Akan tetapi, dalam keadaaan tertentu, yaitu untuk kepentingan umum yang mendesak, penguasa dapat mencabut hak milik seseorang dengan paksa disertai ganti rugi yang pantas.

6. Istishab

Istishab, yaitu menetapkan hukum sesuatu menurut keadaan yang terjadi sebelumnya, sampai ada dalil yang megubahnya. Misalnya,si Fulan menikah dengan si Fulani secara sah dan tertulis, kemudian fulan meninggalkan Fulani tanpa proses perceraian. Pada saat berikutnya, datanglah fulano melamar Fulani. Meskipun si Fulani menerima lamaran si Fulano, perkawinan antara mereka tidak dapat berlangsung karena status Fulani secara tertulis dan sah masih menjadi istri si Fulan. Jadi, selama tidak dapat dibuktikan bahwa si Fulani telah diceraikan Fulan, selama itu pula status Fulani masih menjadi istri Fulan.

7. 'Urf

'Urf, yaitu adat istiadat yang tidak bertentangan dengan hukum Islam dapat dikukuhkan untuk terus berlaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Misalnya, melamar wanita dengan memberi tanda pengikat berupa cincin.

Sumber : 
  • Kamal, Rahmat. Pedoman Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. 2015. Surakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
  • commons.wikimedia.org
  • sultonimubin.blogspot.com
Back To Top