Aku Bangga Jadi Orang Desa

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Belajar dari orang desa menjadi hal yang dikesampingkan oleh kebanyakan masyarakat kota. Karena latar belakang yang berbeda, sering kali orang kota lebih merasa tinggi atau unggu dibandingkan orang desa.


Dari segi informasi misalnya, orang.kota tentu lebih dulu tahu ketimbang orang desa yang agak lamban dalam mendapat informasi. Bukan hanya itu, secara teknologi, kemajuan tata daerah juga lebih unggul kota dari pada desa. Karenanya sering kita jumpai orang kota merasa lebih tinggi posisinya ketimbang orang desa.

Tapi taukah kita, di balik lambannya orang desa dalam memperoleh informasi, ada banyak hal yang bisa kita pelajari darinya. Bahkan bisa dikatakan ada beberapa hal yang hanya dimiliki orang desa dan tak didapati orang kota. Apa saja itu, mari kita simak ulasannya ;

Pertama, “Monggo Mas"

Dalam tradisi Jawa, sapaan monggo sudah sangat populer, khususnya daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sikap saling sapa antar tetangga masih begitu kental. Tak masalah jumpa di mana atau dengan siapa, selama kita kenal maka sikap saling sapa adalah salah satu hal yang biasa dilakukan.

Jiwa kebersamaan dan gotong royong bagi orang desa harus di junjung tinggi. Dengan kebersamaan orang desa merasakan ketentraman, dengan gotong royong orang desa bisa lebih kuat jalinannya. Ini termanifestasi dengan adanya acara kebersamaan. Seperti kenduri, slametan, bangun rumah, bersih desa atau semisalnya. Kesemya ini dilakukan atas dasar kebersamaan dan gotong royong.

Karenanya sikap saling sapa adalah hal yang teramat disenangi orang desa. Bukan hanya agar lebih akrab, tapi memang sudah mentradisi. Terlebih jika seorang anak muda sedang berpapasan dengan orang yang lebih tua, maka sudah menjadi keharusan bagi anak muda untuk menyapanya.

Kedua, Leyeh-Leyeh Enak Tenan

Karena di sebut desa, maka wajar jika masih banyak pepohonan hijau yang menghiasi. Rindangnya pohon Beringin masih bisa dinikmati. Ini memberikan gambaran bahwa orang desa masih segan dengan alam. Kecintaan dengan tanah air masih teramat dalam. Rasa cintanya terbukti dengan adanya alam yang terawat, hijaunya lingkungan dengan banyaknya tanaman. Kesemua ini adalah bukti bahwa orang desa teramat cinta dengan alam.

Karena rasa cintanya, orang desa biasa menanam tumbuhan di pekarangan yang kosong. Bisa dikatakan pula, orang desa tak tega jika melihat pekarangan miliknya kosong dan tandus. Pasti nantinya akan ditanami sejumlah tumbuhan, bisa berupa pepohonan atau aneka bunga.

Indahnya suasana desa adalah hasil jerih payah orang desa salam melestarikan alam. Sebab orang desa berpedoman pada filosofi 'jika kita bersahabat pada alam, maka alam akan lebih bersahabat dengan kita. Tapi jika kita memusuhi alam, maka alam akan lebih memusuhi kita'.

Berangkat dari filosofi ini, menanam sejumlah pohon bukan hal yang berat bagi orang desa. Tak hanya sekedar menanam, tapi juga merawatnya sampai rindang dan membuahkan. Percaya atau tidak, salah satu kekayaan desa dibandingkan kota adalah sejuknya udara. Dan udara yang sejuk itu adalah hasil dari pepohonan yang di tanam oleh orang desa.

Ketiga, Segarnya Air Sungai

Air adalah salah satu sumber utama kehidupan. Air juga merupakan elemen yang paling dominan dalam dataran bumi. Bahkan tubuh manusia juga didominasi oleh air. Maka wajar saja jika air di sebut sebagai sumber kehidupan.

Orang desa dengan keindahan alamnya tentu sangat bersyukur memiliki kejernihan air yang terjaga. Adanya sungai yang mampu digunakam untuk berkaca dan beberapa danau, juga merupakan kekayaan desa yang tak ternilai. Untuk itu salah satu hal yang biasa dilakukan orang desa adalah menjaga kelestarian air.

Tak perlu bertanya bagaimana caranya, yang pasti cara utamanya adalah tidak membuang sampah sembarangan, termasuk di sungai. Dengan adanya sungai yang jernih, sampai-sampai sering kita jumpai juga beragam aktivitas dilakukan di sama. Baik itu membersihkan diri, mencuci baju, bahkan sampai digunakan untuk minum. Ini adalah bukti bahwa kejernihan dam kesegaran air sungai orang desa selalu terjaga.

Ketiga hal tersebut bukan berarti tidak dimiliki orang kota, namun pada faktanya orang desa selalu dominan dalam hal tersebut. Sikap saling sapa dan menjaga kelestarian alam hampir menjadi keprihatinan sendiri bagi orang kota.

Kecenderungan yang individualisme menjadikan rasa tabu untuk saling menyapa, padahal keduanya saling kenal. Kecenderungan yang serba instan dan acuh tak acuh, juga menjadikan sikap egonya lebih tinggi dari pada menjaga kelestarian lingkungan.

Aku Bangga Jadi Orang Desa
Back To Top