Biografi Singkat Mohammad Hatta

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Latar Belakang Mohammad Hatta

sumber : en.wikipedia.org
Drs.H. Mohammad Hatta adalah pejuang, negarawan, ekonom, serta juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Beliau bersama Sukarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Negara Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Beliau juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri di dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, serta RIS. Beliau mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Sukarno. Mohammad Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil serta Siti Saleha yang asalnya dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat. Sedangkan ibunya asalnya dari keluarga pedagang di Bukittinggi. Beliau lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902. Namanya, Athar asalnya dari bahasa Arab, yang berarti “harum”. Beliau merupakan putra kedua, sesudah Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, Beliau telah dididik serta dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri. Sementara itu, ibunya asalnya dari keturunan pedagang. Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di Kota Jakarta.
Ayahnya wafat pada waktu Beliau masih berusia tujuh bulan. sesudah kematian ayahnya, ibunya menikah dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang dari Palembang, Haji Ning sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah, kakeknya dari pihak ibu. Dari pernikahan Siti Saleha dengan Haji Ning, mereka dikaruniai empat orang putra, yang kesemuanya adalah wanita.
Mohammad Hatta pertama kali mendapat pendidikan formal di sekolah swasta. sesudah enam bulan, Beliau pindah ke sekolah rakyat serta sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Beliau kemudian pindah ke ELS di Padang ( kini SMA Negeri 1 Padang ) hingga tahun 1913, kemudian melanjutkan ke MULO hingga tahun 1917. Selain pengetahuan umum, Beliau telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Beliau pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, serta beberapa ulama lainnya. Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Mohammad Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, Beliau kenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Usaha serta juga aktif di dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Aktivitasnya ini tetap dilanjutkannya ketika Beliau bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di Kota Jakarta.
Kakeknya bermaksud akan ke Mekkah, serta pada kesempatan tersebut, Beliau dapat membawa Mohammad Hatta melanjutkan pelajaran di bidang agama, yakni ke Mesir ( Al-Azhar ). Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas suraudi Batu Hampar yang memang sudah menurun semenjak ditinggalkan Syaikh Abdurrahman. Tapi, hal ini diprotes serta mengusulkan pamannya, Idris untuk menggantikannya. Menurut catatan Amrin Imran, Pak Gaeknya kecewa serta Syekh Arsyad pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan.
Pada 18 November 1945, Mohammad Hatta menikah dengan Rahmi Hatta serta tiga hari sesudah menikah, mereka bertempat tinggal di Yogyakarta. Kemudian, dikarunai 3 putra wanita yang bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, serta Halida Nuriah Hatta.

Perjuangan Muhammad Hatta

Masa Penjajahan Negara Belanda

Pergerakan politik Beliau mulai sewaktu bersekolah diNegara Belanda dari 1921-1932. Beliau bersekolah di Handels Hogeschool ( kelak sekolah ini disebut Economische Hogeschool, sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam ), selama bersekolah di sana, Beliau masuk organisasi sosial Indische Vereniging yang lalu menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, serta Douwes Dekker. Pada tahun 1923, Mohammad Hatta menjadi bendahara serta mengasuh majalah Hindia Putera yang berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereniging ( Perhimpunan Indonesia ; PI ).
Pada tahun 1926, Beliau menjadi pemimpin Perhimpunan Indonesia. Sebagai akibatnya, Beliau terlambat menyelesaikan studi. Di bawah kepemimpinannya, PI memperoleh perubahan. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan di Indonesia dengan memberikan banyak tanggapan, serta banyak ulasan di media massa di Indonesia. Satu Tahun lalu, Beliau seharusnya sudah berhenti dari jabatan ketua, namun Beliau dipilih kembali hingga tahun 1930. Pada Desember 1926, Semaun dari PKI datang kepada Mohammad Hatta untuk menawarkan pemimpin pergerakan nasional secara umum kepada PI, selain itu beliau serta Semaun membuat suatu perjanjian bernama “Konvensi Semaun-Hatta”. Inilah yang dijadikan alasan Pemerintah Negara Belanda ingin menangkap Mohammad Hatta. Waktu itu, Mohammad Hatta belum meyetujui faham komunis. Stalin membatalkan keinginan Semaun, sehingga hubungan Mohammad Hatta dengan komunisme mulai memburuk. Sikap Mohammad Hatta ini ditentang oleh anggota PI yang sudah dikuasai komunis.
Pada tahun 1927, Beliau mengikuti sidang “Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial serta untuk Kemerdekaan Nasional” di Frankfurt. di dalam sidang ini, pihak komunis serta utusan dari Rusia nampak ingin menguasai sidang ini, sehingga Mohammad Hatta tidak bisa percaya terhadap komunis.Pada waktu itu, majalah PI, Indonesia Merdeka masuk dengan mudah ke Indonesia lewat penyelundupan, karena banyak penggeledahan oleh pihak kepolisian terhadap kaum pergerakan yang dicurigai.
Pada 25 September 1927, Mohammad Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, serta Madjid Djojohadiningrat ditangkap oleh penguasa Negara Belanda atas fitnahan mengikuti partai terlarang yang dikait-kaitkan dengan Semaun, terlibat perlawanan di Indonesia yang dilakukan PKI dari tahun 1926-1927, serta menghasut ( opruiing ) agar menentang Kerajaan Negara Belanda. Moh. Hatta sendiri dihukum tiga tahun penjara. Mereka semua dipenjara di Rotterdam. Dia juga dituduh akan melarikan diri, sehingga beliau yang sedang mengenalkan Indonesia ke kota-kota di Eropa sengaja pulang lebih cepat begitu berita ini tersebar.
Semua fitnahan tersebut, Beliau tolak di dalam pidatonya “Indonesia Merdeka” ( Indonesie Vrij ) pada sidang kedua tanggal 22 Maret 1928. Pidato ini hingga ke Indonesia dengan cara penyelundupan. Beliau juga dibela 3 orang pengacara Negara Belanda yang salah satunya asalnya dari parlemen. Yang dari parlemen, bernama J.E.W. Duys. Tokoh ini memang bersimpati padanya. sesudah ditahan beberapa bulan, mereka berempat dibebaskan dari fitnahan, karena fitnahan tidak bisa dibuktikan.
hingga pada tahun 1931, Mohammad Hatta mundur dari jabatannya sebagai ketua karena hendak mengikuti ujian sarjana, sehingga Beliau berhenti dari PI; namun demikian Beliau akan tetap membantu PI. Akibatnya, PI jatuh ke tangan komunis, serta mendapat arahan dari partai komunis Negara Belanda serta juga dari Moskow. sesudah tahun 1931, PI mengecam keras kebijakan Mohammad Hatta serta mengeluarkannya dari organisasi ini. PI di Negara Belanda mengecam sikap Mohammad Hatta sebab Beliau bersama Soedjadi mengkritik secara terbuka terhadap PI. Perhimpunan menahan sikap terhadap kedua orang ini.
Pada Desember 1931, para pengikut Mohammad Hatta segera membuat gerakan tandingan yang disebut Gerakan Merdeka yang lalu bernama Pendidikan Nasional Indonesia yang kelak disebut PNI Baru. Ini mendorong Mohammad Hatta serta Syahrir yang pada waktu itu sedang bersekolah di Negara Belanda untuk mengambil langkah kongkret untuk mempersiapkan kepemimpinan di sana. Mohammad Hatta sendiri merasa perlu untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Oleh karenanya, Syahrir terpaksa pulang serta untuk memimpin PNI. Kalau Mohammad Hatta kembali pada 1932, diharapkan Syahrir dapat melanjutkan studinya.
Sekembalinya Beliau dari Negara Belanda, Beliau ditawarkan masuk kalangan Sosialis Merdeka ( Onafhankelijke Socialistische Partij, OSP ) untuk menjadi anggota parlemen Negara Belanda, serta menjadi perdebatan hangat di Indonesia pada waktu itu. Pihak OSP mengiriminya telegram pada 6 Desember 1932, yang berisi kesediaannya menerima pencalonan anggota Parlemen. Ini dikarenakan Beliau berpendapat bahwa Beliau tidak setuju orang Indonesia menjadi anggota di dalam parlemen Negara Belanda. Sebenarnya beliau menolak masuk, dengan alasan Beliau perlu berada serta berjuang di Indonesia. Namun, pemberitaan di Indonesia mengatakan bahwa Mohammad Hatta menerima jabatan tersebut, sehingga Sukarno menuduhnya tidak konsisten di dalam melaksanakan sistem non-kooperatif.
Sesudah Mohammad Hatta kembali dari Negara Belanda, Syahrir tidak bisa ke Negara Belanda karena keduanya keburu ditangkap Negara Belanda pada 25 Februari 1934 serta dibuang ke Digul, serta selanjutnya ke Banda Neira. Baik di Digul maupun Banda Neira, Beliau banyak menulis di koran-koran Kota Jakarta, serta ada juga untuk majalah-majalah di Medan. Artikelnya tidak terlalu politis, namun bersifat lebih menganalisis serta mendidik pembaca. Beliau juga banyak membahas pertarungan kekuasaan di Pasifik.
Sewaktu diasingkan ke Digul, Beliau membawa semua buku-bukunya ke tempat pengasingannya. Di sana, Beliau mengatur waktunya sehari-hari. Pada waktu hendak membaca, Beliau tak mau diganggu. Sehingga, beberapa kawannya menganggap beliau sombong. Beliau juga merupakan sosok yang peduli terhadap tahanan. Beliau menolak bekerja sama dengan penguasa setempat, misalnya memberantas malaria. Apabila Beliau mau bekerja sama, Beliau diberi gaji f 7.50 satu bulan. Namun, kalau tidak, Beliau hanya diberi gaji f 2.50 saja.Gajinya itu tidak Beliau habiskan sendiri. Beliau juga peduli terhadap kawannya yang kekurangan.
Di Digul, selain bercocok tanam, Beliau juga membuat pelatihan khusus kepada para tahanan. Di antara tahanan tersebut, ada beberapa orang yang ibadah shalat serta puasanya teratur; baik dari Minangkabau maupun Banten. Tapi, mereka ditangkap karena -pada umumnya- terlibat perlawanan komunis. Pada masa itu, Beliau menulis surat untuk iparnya untuk dikirimi alat-alat pertukangan seperti paku serta gergaji. Selain itu, beliau juga menceritakan nasib orang-orang buangan di dalam surat itu. Kemudian, ipar Mohammad Hatta mengirim surat itu ke koran Pemandangan di Kota Jakarta serta segera surat itu dimuat. Surat itu dibaca menteri jajahan pada waktu itu, Colijn. Colijn mengecam pemerintah serta segera mengirim residen Ambon untuk menjumpai Mohammad Hatta di Digul. Maka uang diserahkan untuknya, Mohammad Hatta menolak serta Beliau juga meminta agar kalau mau ditambah, diserahkan juga kepada pemimpin lain yang hidup di dalam pembuangan.
Pada 1937, Beliau menerima telegram yang mengatakan beliau dipindah dari Digul ke Banda Neira. Mohammad Hatta pindah bersama Syahrir pada bulan Februari pada tahun itu, serta mereka menyewa satu buah rumah yang cukup besar. Di situ, ada beberapa kamar serta ruangan yang cukup besar. Adapun ruangan besar itu digunakannya untuk menyimpan bukunya serta tempat bekerjanya.
Sewaktu di Banda Neira, Beliau bercocok tanam serta menulis dikoran “Sin Tit Po” ( dipimpin Lim Koen Hian; bulanan ini berhenti pada 1938 ) dengan honorarium f 75 di dalam Bahasa Negara Belanda. Kemudian, Beliau menulis di Nationale Commantaren ( tanggapan Nasional; dipimpin Sam Ratulangi ) serta juga, Beliau menulis di koran Pemandangan dengan honorarium f 50 satu bulan per satu/dua tulisan. Mohammad Hatta juga pernah menerima tawaran Kiai Haji Mas Mansur untuk ke Makassar, beliau menolak dengan alasan kalaupun dirinya ke Makassara beliau masih berstatus tahanan juga. Waktu itu, sudah ada Cipto Mangunkusumo serta Iwa Kusumasumantri. Mereka semua sudah saling kenal.
Selain itu, di Banda Neira, Mohammad Hatta juga mengajar kepada beberapa orang anak muda. putra dr. Cipto belajar tata-buku serta sejarah. Ada juga putra asli daerah Banda Neira yang belajar kepada Mohammad Hatta. Ada seorang kenalan Mohammad Hatta dari Sumatera Barat yang mengirimkan dua orang kemenakannya untuk belajar ekonomi serta juga sejarah. Selain itu, dari Bukittinggi dikirim Anwar Sutan Saidi sebanyak empat orang anak muda yang belajar kepada Mohammad Hatta.
Pada tahun 1941, Mohammad Hatta menulis artikel di koran Pemandangan yang isinya agar rakyat Indonesia jangan memihak kepada baik ke pihak Barat ataupun fasisme Negara Jepang. Kelak, pada zaman Negara Jepang tulisan Mohammad Hatta dijadikan bahan oleh penguasa Negara Jepang untuk tidak percaya Mohammad Hatta selama Perang Pasifik. Yang mana, kelak tulisan Mohammad Hatta dibaca Murase, seorang Wakil Kepala Kenpeitei ( dinas intelijen ) serta menyarankan Mohammad Hatta agar mengikuti Nippon Sheisin di Tokyo pada November 1943.

Masa Penjajahan Negara Jepang

Pada tanggal 8 Desember 1941, angkatan perang Negara Jepang menyerang Pearl Harbor, Kota Hawaii. Ini memicu Perang Pasifik, serta sesudah Pearl Harbor, Negara Jepang segera menguasai sejumlah daerah, termasuk Indonesia. di dalam keadaan darurat tersebut, Pemerintah Negara Belanda memerintahkan untuk memindahkan orang-orang buangan dari Digul ke Australia ,karena khawatir kerjasama dengan Negara Jepang. Mohammad Hatta serta Syahrir dipindahkan pada Februari 1942, ke Sukabumi sesudah menginap sehari di Surabaya serta naik kereta api ke Kota Jakarta. Bersama kedua orang ini, turut pula 3 orang putra-putra dari Banda yang dijadikan putra angkat oleh Syahrir. sesudah itu, Beliau dibawa kembali ke Kota Jakarta. Beliau bertemu Mayor Jenderal Harada. Mohammad Hatta menanyakan keinginan Negara Jepang datang ke Indonesia. Harada menawarkan kerjasama dengan Mohammad Hatta. Kalau mau, Beliau akan diberi jabatan penting. Mohammad Hatta menolak, serta memilih menjadi penasihat. Beliau dijadikan penasihat serta diberi kantor di Pegangsaan Timur serta rumah di Oranje Boulevard ( Jalan Diponegoro ). Orang terkenal pada masa sebelum perang, baik orang pergerakan, atau mereka yang bekerjasama dengan Negara Belanda, diikutsertakan seperti Abdul Karim Pringgodigdo, Surachman, Sujitno Mangunkususmo, Sunarjo Kolopaking, Supomo, serta Sumargo Djojohadikusumo. Pada masa ini, Beliau banyak mendapat tenaga-tenaga baru. Pekerjaan di sini, merupakan tempat saran oleh pihak Negara Jepang. Negara Jepang mengharapkan agar Mohammad Hatta memberikan nasehat yang menguntungkan mereka, malah Mohammad Hatta memanfaatkan itu untuk membela kepentingan rakyat.
Sebelum Kemerdekaan Indonesia
Saat-waktu mendekati Proklamasi pada 22 Juni 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI ) membentuk panitia kecil yang disebut Panitia Sembilan dengan tugas mengolah usul serta konsep para anggota mengenai dasar negara Indonesia. Panitia kecil itu beranggotakan 9 orang serta diketuai oleh Ir. Sukarno. Anggota lainnya Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdulkahar Muzakir, Wahid Hasyim, H. Agus Salim, serta Abikusno Tjokrosujoso. Kemudian pada 9 Agustus 1945, Mohammad Hatta bersama Bung Karno serta Radjiman Wedyodiningrat diundang ke Dalat ( Vietnam ) untuk dilantik sebagai Ketua serta Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ). Badan ini bertugas melanjutkan hasil kerja BPUPKI serta menyiapkan pemindahan kekuasaan dari pihak Negara Jepang kepada Indonesia. Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Panglima Asia Tenggara Jenderal Terauchi. Puncaknya pada 16 Agustus 1945, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok hari dimana Bung Karno bersama Mohammad Hatta diculik ke kota kecil Rengasdengklok ( dekat Karawang, Jawa Barat ). Penculikan itu dilakukan oleh kalangan anak muda, di dalam rangka mempercepat tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Malam hari, mereka mengadakan rapat untuk persiapan proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol 1 Kota Jakarta. Sebelum rapat, mereka menjumpai somabuco ( kepala pemerintahan umum ) Mayjen Nishimura untuk mengetahui sikapnya mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesefahaman sehingga tidak adanya kesefahaman itu meyakinkan mereka berdua untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan itu tanpa kaitan lagi dengan Negara Jepang.

Pasca Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia beliau bersama Sukarno resmi memproklamasikan kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Kota Jakarta pukul 10.00 WIB. Dan keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, beliau resmi dipilih sebagai Wakil Presiden RI yang pertama mendampingi Presiden Sukarno. Selama menjadi Wakil Presiden, Mohammad Hatta amat gigih bahkan dengan nada sangat marah, menyelamatkan Republik dengan mempertahankan naskah Linggajati di Sidang Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada 25 Februari – 6 Maret 1947 serta hasilnya Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat ( KNIP ) sehingga anggota KNIP menjadi agak lunak pada 6 Maret 1947. Pada waktu terjadinya Agresi Militer Negara Belanda I pada 21 Juli 1947, Mohammad Hatta dapat meloloskan diri dari kepungan Negara Belanda serta pada waktu itu beliau masih berada di Pematang Siantar. Dia dengan selamat bersama dengan Gubernur Sumatera Mr. T. Hassan datang di Bukittinggi. Sebelumnya pada 12 Juli 1947 Mohammad Hatta mengadakan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya. Pada hari itu juga, Hari Koperasi Indonesia ditetapkan serta Mohammad Hatta ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Kemudian, Mohammad Hatta dengan kewibawaannya sebagai Wakil Presiden hendak menggoalkan persetujuan Renville dengan berakibat jatuhnya Kabinet Amir serta digantikan oleh Kabinet Hatta. Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk pada 29 Januari 1948, Mohammad Hatta menjadi Perdana Menteri serta merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Suasana panas waktu timbul perlawanan PKI Madiun di dalam bulan September 1948, memuncak pada penyerbuan tentara Negara Belanda ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Mohammad Hatta bersama Bung Karno diangkut oleh tentara Negara Belanda pada hari itu juga. Di tahun yang sama, Mohammad Hatta bersama Bung Karno diasingkan ke Menumbing, Bangka. Beberapa waktu sesudah pengasingan karena mengalami adanya satu buah perundingan Komisi Tiga Negara ( KTN ) di Kaliurang, di mana Critchley datang mewakili Australia serta Cochran mewakili Amerika.
Pada Juli 1949, terjadi kemenangan Cochran di dalam menyelesaikan perundingan Indonesia. Tahun ini, terjadilah satu buah perundingan penting, Konferensi Meja Bundar ( KMB ) yang beliau dakan di Den Haag sesudah berunding selama 3 bulan, pada 27 Desember 1949 kedaulatan NKRI kita miliki untuk selamanya. Ratu Juliana memberi tanda pengakuan Negara Belanda atas kedaulatan negara Indonesia tanpa syarat kecuali Irian Barat yang akan dirundingkan lagi di dalam waktu Satu Tahun sesudah Pengakuan Kedaulatan kepada Mohammad Hatta yang bertindak sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia di Amsterdam serta di Kota Jakarta. Di Amsterdam dari Ratu Juliana kepada Drs. Mohammad Hatta serta di Kota Jakarta dari Dr. Lovink yang mewakili Negara Belanda kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sehingga pada akhirnya negara Indonesia menjadi negara Republik Indonesia Serikat ( RIS ), Mohammad Hatta terpilih menjadi Perdana Menteri RIS juga merangkap sebagai Menteri Luar Negeri RIS serta berjabatan di Kota Jakarta serta Bung Karno menjadi Presiden RIS. Ternyata RIS tidak berlangsung lama, serta pada 17 Agustus 1950, Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) dengan ibu kota Kota Jakarta dengan Perdana Menteri Moh. Natsir. Mohammad Hatta menjadi Wakil Presiden RI lagi serta berdinas kembali ke rumah yang berada di Jalan Medan Merdeka Selatan 13 Kota Jakarta.
Pada tahun 1955, Mohammad Hatta membuat pernyataan bahwa apabila parlemen serta konstituante pilihan rakyat sudah terbentuk, beliau akan mengundurkan diri. Menurutnya, di dalam negara yang mempunyai kabinet parlementer, Kepala Negara adalah sekadar simbol saja, sehingga Wakil Presiden tidak diperlukan lagi. Pada tanggal 20 Juli 1956, Mohammad Hatta menulis sepucuk surat kepada Ketua DPR pada waktu itu, Sartono yang isinya antara lain, “Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, sesudah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, serta Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah datang waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, sesudah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi.” DPR menolak secara halus permintaan Mohammad Hatta tersebut, dengan cara mendiamkan surat tersebut. Kemudian, pada tanggal 23 November 1956, Mohammad Hatta menulis surat susulan yang isinya sama, bahwa tanggal 1 Desember 1956, Beliau akan berhenti sebagai Wakil Presiden RI. Akhirnya, pada sidang DPR pada 30 November 1956, DPR akhirnya menyetujui permintaan Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden, jabatan yang telah dipegangnya selama 11 tahun. Di akhir tahun 1956 juga, Mohammad Hatta tidak sejalan lagi dengan Bung Karno karena beliau tidak ingin memasukkan unsur komunis di dalam kabinet pada waktu itu. Sebelum Beliau mundur, beliau memperoleh gelar doctor honouris causa dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Sebenarnya gelar doctor honouris causa ingin diserahkan pada tahun 1951. Namun, gelar tersebut baru diserahkan pada 27 November 1956. Demikian pula Universitas Indonesia pada tahun 1951 telah menyampaikan keinginan itu tetapi Mohammad Hatta belum bersedia menerimanya. Kata beliau , “Nanti saja kalau saya telah berusia 60 tahun.”.
Sesudah mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956, beliau serta keluarga berpindah rumah dari Jalan Medan Merdeka Selatan 13 ke Jalan Diponegoro 57. Mohammad Hatta tak pernah menyesal atas keputusan yang telah Beliau buat. Aktivitas sehari-hari Mohammad Hatta sesudah pensiun adalah menambah dari penghasilan menulis buku serta mengajar. Meskipun sudah tak menjabat lagi sebagai Wakil Presiden, pada tahun 1957 beliau berangkat ke Cina karena mendapat undangan dari Pemerintah RRC. Rakyat sana masih menganggap beliau sebagai “a great son of his country”, terbukti dari penyambutan yang seharusnya diserahkan kepada seorang kepala negara di mana PM Zhou Enlai sendiri menyambut beliau yang bukan lagi sebagai wakil presiden.
Ketika Presiden Sukarno berada di puncak kekuasaannya pada tahun 1963, Mohammad Hatta pertama kali jatuh sakit serta perlu perawatan di Swedia karena perlengkapan medis di sana lebih lengkap. Sekitar tahun 1965, Mohammad Hatta sering jadi bulan-bulanan serangan politik PKI. Pada 31 Januari 1970, melalui Keppres No. 12/1970 telah dibentuk Komisi Empat yang bertugas mengusut masalah korupsi. Untuk keperluan itu Dr. Moh. Hatta ( mantan Wakil Presiden RI ) telah diangkat menjadi Penasehat Presiden di dalam masalah pemberantasan Korupsi. Komisi Empat ini diketuai oleh Wilopo, SH, dengan anggota-anggota: IJ Kasimo, Prof. Dr. Yohanes, H. Anwar Tjokroaminoto, dengan sekretaris Kepala Bakin/Sekretaris Kopkamtib, Mayjen. Sutopo Juwono. Dr. Moh. Hatta juga ditunjuk sebagai Penasehat Komisi Empat tersebut. Mohammad Hatta dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Anggota Dewan Penasehat Presiden. Pada 15 Agustus 1972, Mohammad Hatta mendapat anugerah Bintang Republik Indonesia Kelas I dari Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian, di tahun yang sama Pemerintah Provinsi DKI Kota Jakarta mengangkat beliau sebagai warga utama Ibukota Kota Jakarta dengan segala fasilitasnya, seperti perbaikan besarnya pensiun serta penetapan rumah beliau menjadi salah satu gedung yang bersejarah di Kota Jakarta. Kemudian, pada tahun 1975, Mohammad Hatta menjadi anggota Panitia Lima bersama Prof Mr. Soebardjo, Prof Mr. Sunario, A.A. Maramis, serta Prof Mr. Pringgodigdo untuk memberi pengertian mengenai Pancasila sesuai dengan alam pikiran serta semangat lahir serta batin para penyusun UUD 1945 dengan Pancasilanya. Ternyata, Mohammad Hatta resmi menjadi Ketua Panitia Lima. Tak hanya itu, Mohammad Hatta kembali memperoleh gelar doctor honouris causa sebagai tokoh proklamator dari Universitas Indonesia yang seharusnya diserahkan pada tahun 1951. penyerahan gelar tersebut dilakukan di Kota Jakarta pada 30 Juli 1975 serta diserahkan secara langsung oleh Rektor Mahar Mardjono. Dan pada tahun 1979, dimana tahun tersebut merupakan tahun ke-5 Mohammad Hatta masuk ke rumah sakit. Kesehatan Mohammad Hatta semakin menurun. Walaupun begitu, semangatnya tetap saja tinggi. Beliau masih mengikuti perkembangan politik dunia.

Wafat

Mohammad Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 pukul 18.56 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Kota Jakarta sesudah sebelas hari Beliau dirawat di sana. Selama hidupnya, Mohammad Hatta telah dirawat di rumah sakit sebanyak 6 kali pada tahun 1963, 1967, 1971, 1976, 1979, serta terakhir pada 3 Maret 1980. Keesokan harinya, beliau disemayamkan di kediamannya Jalan Diponegoro 57, Kota Jakarta serta dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Kota Jakarta disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada waktu itu, Adam Malik. Beliau ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto.

Penghargaan

Sesudah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Mohammad Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Bung Karno. Pada 7 November 2012, Mohammad Hatta secara resmi bersama dengan Bung Karno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.
Bandar udara internasional Kota Jakarta, Bandar Udara Sukarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya. Selain beliau diabadikan di Indonesia , nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Negara Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem dengan nama Mohammed Hattastraat. Pada tahun 1980, Beliau wafat serta dimakamkan di Tanah Kusir, Kota Jakarta. Mohammad Hatta ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986/
diolah dari : id.wikipedia.org
Back To Top