Sanggar Karawitan Panji Wulung ( Sejarah dan Perkembangan )

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Seni tradisi Jawa masih mengakar begitu kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meskipun eksistensinya relatif kurang menggembirakan, namun bentuk-bentuk seni tradisi tersebut masih dijumpai hidup, bahkan berkembang, di banyak wilayah komunitas masyarakat Jawa. Salah satu seni tradisi yang dimaksud adalah karawitan. Melalui campur tangan kraton (sebagai pusat kebudayaan Jawa), seni karawitan dapat dikatakan telah menjadi kesenian milik seluruh masyarakat Jawa, dengan warna, corak, dan gaya masing-masing di tiap ‘sub-etnis’ Jawa. Karawitan juga telah mendapat predikat adi luhung atau high culture, yang arti jenis seni ini telah diakui sebagai bentuk seni yang memiliki berbagai nilai-nilai, baik etik-estetik, fslsafay, dan berbagai ajaran yang luhur.
Sebenarnya, dalam arti luas —melalui definisi harfiah bahwa karawitan adalah semua bentuk seni yang bersifat rumit, halus, indah— karawitan mencakup beberapa seni, di antaranya seni musik (termasuk juga seni suara) Jawa atau gamelan, pedalangan, batik, dan lain-lain. Namun, untuk membatasi ruang lingkup, istilah karawitan di sini ditujukan untuk menyebut seni yang melibatkan gamelan Jawa dan/atau unsur-unsurnya. Karawitan sendiri diartikan sebagai seni musik/suara yang menggunakan laras slendro dan/atau pelog.
Eksistensi karawitan tampak pada adanya aktifitas komunitas-komunitas masyarakat yang menghidupkannya. Sayangnya, aktifitas-aktifitas karawitan seperti itu sering tidak terwadahi dengan baik. Dalam hal ini, tempat yang sering menjadi pusat atau wadah kegiatan-kegiatan tersebut adalah tempat yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Instrumen musik gamelan Jawa (Gamelan Gedhe /Ageng) merupakan salah satu sarana yang penting. Dengan adanya ansambel musik gamelan—yang secara fakta bukanlah instrumen musik yang ‘murah dan praktis’— masyarakat dapat menyalurkan minat untuk ber-karawitan (menabuh gamelan), terlepas dari motivasi yang mendasarinya.
Sejak tahun 1978, di Banaran, Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri, telah mulai menjadi wadah berlangsungnya kegiatan karawitan.Bermodalkan seperangkat gamelan besi, muncullah aktifitas karawitan yang rutin di Banaran. Dengan tempat yang mulanya sempat berpindah-pindah di beberapa rumah penduduk, akhirnya sejak tahun 2000-an Suyadi merelakan rumah kediamannya menjadi lokasi keberadaan gamelan itu dan menjadi pusat kegiatan karawitan hingga sekarang. Pada mulanya terdapat sebuah kelompok karawitan pria dan sempat terdapat juga satu kelompok karawitan wanita. Kelompok karawitan tersebut melakukan aktifitas berupa latihan karawitan rutin yang diadakan setiap seminggu sekali. Dengan manajemen atau keorganisasian yang sederhana, pada kenyataannya salah satu grup/kelompok karawitan (pria) dapat berjalan terus, dan berkembang hingga sekarang.
Sampai tahun 2008, perangkat gamelan yang digunakan ialah gamelan besi pinjaman dari SD Negeri 1 Wonogiri dan SMK Pancasila 1 Wonogiri yang dilaras slendro dan pelog. Meskipun kondisi perangkat gamelan tersebut tidak begitu bagus, namun semangat para penggiat karawitan tidak memudar untuk menggunakannya secara intensif. Apabila pada awalnya hanya ada 1 (satu) grup/kelompok karawitan yang dinamakan ‘Ngesthi Laras’, maka pada tahun 2005 terbentuklah sebuah grup karawitan lagi yang diberi nama kelompok ‘Marsudi Laras’. Berbeda dengan grup Ngesthi Laras yang anggotanya terdiri dari orang-orang dari berbagai tempat di Kecamatan Wonogiri dan sekitarnya, maka grup Marsudi Laras merupakan grup karawitan yang hampir seluruh anggotanya adalah warga setempat, yakni warga Banaran Kelurahan Wonoboyo.
Perkembangan ‘sanggar karawitan’ di Banaran tersebut semakin tampak dengan didirikan/diadakannya kursus pedalangan pada tahun 2006 atas inisiatif sejumlah penggiat sanggar. Adanya kursus pedalangan di sanggar yang ‘non formal-non profit’ ini menjadi langkah baru keberlangsungan sanggar ini. Kursus pedalangan ketika itu diketuai oleh Sunarya, S.Sos. dengan nama ‘Sekar Rinonce’.
Pada tahun 2008, seorang wirausahawan di Bauresan Kelurahan Giripurwo Kecamatan Wonogiri bernama Sudarmanto (Darmanto ‘Bagor’) berkenan meminjamkan perangkat Gamelan Ageng-nya (slendro-pelog) untuk digunakan di sanggar Banaran yang dikelola Suyadi. Perangkat gamelan ini lebih bagus dari gamelan yang telah ada. Meskipun, sebagian besar bukan berbahan perunggu, namun gamelan milik Darmanto cukup bagus keadaannya, baik dari aspek organologi maupun larasan-nya. Sehingga sejak dipindahkannya (dipinjamkannya) gamelan milik Darmanto ke sanggar, otomatis gamelan sebelumnya yang kondisinya makin rusak segera ‘diberhentikan’ sementara.Selain itu, paguyuban karawitan yang ditangani dan difasilitasi oleh Darmanto, yakni paguyuban karawitan 'Moro Sae' sejak itu melakukan aktifitasnya di sanggar Banaran tadi.
Pada akhir tahun 2010, karena ada suatu masalah, maka atas kemufakatan bersama, pengurus dan pemilik/pengelola melepaskan ‘Sekar Rinonce’, yang saat itu telah berhasil memperoleh perijinan pendirian lembaga dari dinas terkait. Mulai sejak itu nama 'Sekar Rinonce' lepas dari sanggar milik Suyadi. Mulai tahun 2011, para pengurus dan pengelola sanggar, dengan disetujui seluruh 'warga'nya (grup-grup atau kelompok karawitan dan kursus pedalangan) bermaksud memberi nama ‘Panji Wulung’ untuk lembaga yang mewadahi sejumlah aktifitas tersebut. Seluruh pengurus dan anggota sanggar mulai tahun 2011 bermaksud mengadakan pembaharuan dengan segenap langkah-langkah menuju perkembangan kehidupan sanggar yang dinamakan ‘Panji Wulung’ ini. Melalui rapat bersama yang melibatkan seluruh elemen sanggar, diadakanlah penataan organisasi dan kepengurusan yang lebih baik.
Sanggar ‘Panji Wulung’ dalam proses perjalanannya untuk memperoleh status lembaga, yakni LKP (Lembaga Ketrampilan dan Pelatihan) secara resmi dan disahkan dinas terkait, lalu memperjelas jenis-jenis kegiatan yang ditangani atau diwadahinya. Di bawah ini rincian bidang kegiatan yang diwadahi.
Ketrampilan Seni/Kesenian Tradisi Jawa
1) Seni Karawitan
2) Seni Pedalangan
3) Swarawati (Waranggana/Pesindhen)
4) Seni Tembang/Sekar Jawa
Ketrampilan Kewirausahaan (dalam perencanaan)
1) Perbengkelan
2) Pedagang Kecil
3) Pertanian

Sebenarnya, sebelum terstruktur dalam wadah ‘Panji Wulung’, selain bidang seni karawitan dan seni pedalangan, beberapa bidang-bidang kegiatan tersebut di atas telah berjalan lama, yakni swarawati dan seni tembang. Untuk bidang swarawati, tentu saja kegiatannya banyak bergabung pada kegiatan seni karawitan, mengingat swarawati (sindhenan) melekat pada seni karawitan. Artinya, kegiatan swarawati bergabung dengan kegiatan karawitan, dalam hal tempat dan waktu. Hanya saja, karena ketrampilan sindhenan memang membutuhkan keahlian khusus dan pelatihan secara khusus, maka sering diadakan kegiatan yang khusus untuk pelatihan sindhen, terpisah dari kegiatan karawitan secara lengkap. Begitu juga dengan seni tembang atau sekar. Bedanya, karena cakupan tembang Jawa lebih luas daripada sindhenan, tembang Jawa bisa saja terlepas dari kegiatan karawitan lengkap, misalnya macapat. Dalam hal ini, kegiatan di bidang tembang Jawa banyak diikuti oleh golongan pelajar (siswa sekolah), terkait dengan kegiatan di sekolahnya, meskipun kegiatan ini sifatnya relatif insidental.
Hingga saat ini, sanggar 'Panji Wulung' menjadi sebuah wadah yang membuka kesempatan berbagai kegiatan dan aktifitas seni tradisi Jawa, khususnya seni karawitan (dengan berbagai cabangnya) dan seni pedalangan. Selain sebagai wadah, sanggar 'Panji Wulung' dengan fasilitas dan kemampuan yang ada berusaha melayani masyarakat, maupun instansi dalam hal kegiatan kesenian tadi. Secara kongkrit, berikut ini wujud 'pelayanan' tersebut.
Tempat diselenggarakannya kursus pedalangan 'Panji Wulung', untuk semua kalangan dan usia;
Tempat berlatih dan beraktifitas karawitan kelompok-kelompok atau grup karawitan, yakni keompok karawitan yang secara tetap diwadahi oleh 'Panji Wulung' (yaitu: grup 'Ngesthi Laras', 'Moro Sae', 'Kridhatama'), maupun kelompok karawitan yang berlatih di sangggar ' Panji Wulung' secara insidental (misalnya hingga saat ini kelompok mahasiswa suatu perguruan tinggi swasta ternama di Sukoharjo sering mengadakan aktifitas karawitan di 'Panji Wulung', baik dalam rangka kuliah karawitan, latihan, dan pernah pula ujian karawitan). Sejak tahun 2010, kegiatan karawitan di sebuah sekolah dasar yang tak jauh dari lokasi sanggar, yakni SD Negeri 2 Wonoboyo, secara rutin mengadakan kegiatan karawitan di 'Panji Wulung', karena memang belum memiliki fasilitas gamelan. Bentuk-bentuk pewadahan kegiatan karawitan berbagai kelompok atau komunitas karawitan seperti ini biasa dan secara terbuka dilakukan oleh sanggar 'Panji Wulung'.
Tempat proses latihan tembang (sekar) seperti macapat, berbagai kalangan, seperti pelajar (SD, SMP, SMA) dan lain-lain yang ingin mengadakan kegiatan atau latihan.
Dan masih banyak program-program kegiatan, baik yang sfatnya kegiatan jangka pendek, menengah, atau jangka panjang, yang diadakan 'Panji Wulung', sebagi bentuk pemgabdiannya kepada masyarakat dalam bidang seni tradisi khususnya.

Penggandaan Artikel ini telah disetujui oleh Anggota Sanggar Panji Wulung ( dan serta oleh saya sendiri juga sebagai anggotanya ).

Back To Top